Barton Fink: The Complexity of Common Men

Barton Fink (1991, film ke empat Coen Brothers) adalah film yang sangat kaya, dari segi tema, simbolisme, maupun emosi, yang mampu bercerita dengan sangat baik tanpa ada satu tema besar utama maupun pesan moral tertentu.
Bercerita tentang Barton Fink, seorang penulis teater dari New York yang dikontrak untuk menulis skenario film wrestle (gulat) oleh sebuah perusahaan film Los Angeles tahun 1941, zaman keemasan studio besar holywood. Barton adalah seorang penulis idealis, dengan prinsip yang teguh untuk menulis karya-karya bertendensi permasalahan orang biasa (common man’s tragedy) sebagai kontras dari apa yang biasa disebuat permasalahan besar yang dialami para raja atau semacamnya (yang banyak kita temukan di karya-karya shakespeare). Ini menggambarkan tema yang bisa dibilang post-modern, yang berkembang setelah era 50an, dimana banyak penulis mulai menggali isu-isu permasalahan orang biasa, daripada menulis isu-isu permasalahan besar. Dan bahwa permasalahan orang biasa seringkali tidak kalah rumit dan berat dari permasalahan-permasalahan besar. Sehubungan dengan tema ini, ada juga karakter Charlie, tetangga kamar Barton di hotel Earle, tempat Barton tinggal di Los Angeles, yang tampak lusuh dan tidak terawat. Charlie adalah seorang salesman asuransi, mungkin terinspirasi dari karakter Willy Loman di novel Death of A Salesman, sebuah novel definitif tentang permasalahan orang biasa yang ditulis oleh Arthur Miller pada tahun 1949.


Namun lebih dari itu, film ini juga menyentuh banyak tema lain. Ada sesuatu yang aneh dari Charlie, saya tidak akan bilang apa itu, tapi saya yakin kamu akan cukup kaget. Film ini masih juga memiliki elemen-elemen noir, khas Coen brothers, yang menjadikannya jauh dari membosankan. Ada misteri-misteri tertentu yang cukup mendalam.


Tema lain yang juga muncul di sini adalah dunia kepenulisan dan hubungan antara penulis, dalam hal ini di dunia film, dan korporasi film. Terlihat cukup kontras antara Barton Fink yang idealis dengan prinsip-prinsipnya, dan perusahaan film yang hanya ingin membuat sebuah film yang bisa laku keras. Masalah muncul ketika Barton mengalami writer’s block. Macet Ide. Sebuah hal yang cukup umum dialami seorang penulis. Hanya sutradara seperti Coen brothers yang berhasil menampilkan cerita tentang writer’s block dan membuatnya jadi sangat menarik. Dan tema writer’s block ini juga terinspirasi dari pengalaman mereka sendiri, ketika mereka stuck saat menulis Miller’s Crossing.


Film ini juga sangat kaya dengan simbol-simbol tanpa memiliki suatu makna secara keseluruhan, membiarkan makna tetap dibentuk di kepala penonton. Seperti foto di dinding yang menjadi nyata di akhir film, api yang membakar hotel, dan nama-nama beberapa karakter yang merujuk pada tema fasisme di perang dunia II.
Pada akhirnya, melihat film ini seperti melihat bahwa film yang baik tidak akan mendikte penonton soal pesan moral atau arti dari sesuatu; film yang baik bercerita secara mengalir, mempersilahkan penonton menyusun maknanya sendiri, yang bisa saja berbeda-beda antar tiap penonton.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s