Blood Simple: A Very Bloody Affair

Di film pertamanya, Coen Brothers membuat sebuah film neo-noir crime yang berkelas dan sangat otentik.


Plot film ini cukup kompleks, tentang seorang pemilik bar yang menyewa seorang detektif untuk menyelidiki istrinya yang dicurigainya berselingkuh. Dari sana, cerita menjadi cukup rumit, penuh penghianatan, kesalah-pahaman, dan ketidak-percayaan. Sebuah plot yang cukup klasik sebenarnya, merujuk pada gaya khas masa keemasan film noir tahun 40-50an, dengan elemen perselingkuhan, detektif sewaan dan segepok uang bayaran. Tapi Coen brothers berhasil menyusun elemen-elemen itu menjadi sesuatu yang tampak baru, menegangkan, dan menghibur, dengan bungkus setting versi gelap dan keras Texas.
Dari segi teknis, film ini juga sangat memukau, shot-shotnya sangat tajam, terutama untuk adegan-adegan utama yang cukup gelap. Didukung juga oleh musik latar yang kadang mencekam dan menghantui, oleh Carter Burwell, yang kemudian menjadi kolaborator setia Coen brothers untuk film-film mereka selanjutnya.


Satu hal lagi yang tidak bisa diacuhkan di film ini adalah akting dari semua aktor yang sangat luar biasa. Mereka bukan bintang-bintang Holywood, mereka adalah aktor watak yang sangat berbakat. Mereka mampu membuat karakter-karakter di sini menjadi hidup. Ini adalah film pertama Frances McDormand, yang langsung melejitkan namanya di kalangan art house dan independent cinema.

Advertisements

Psychic Cosmonaut Mixtape

Ini adalah sebuah mixtape yang saya buat untuk pameran Temper Tantrum tempo hari. Berisi beberapa track doom/stoner/psychedelic/whatnots. Satu alasan kenapa saya memilih tema psychedelic stoner adalah karena pameran itu mengambil tema autisme. Saya tidak terlalu paham dengan autisme, tapi dari apa yang saya tahu, anak autistik seperti selalu tenggelam dalam dunianya sendiri, seperti berada di alam yang lain. Kira-kira itu juga yang saya rasakan ketika mendengarkan band-band seperti Om, Colour Haze, Earthless, dsb, dimana durasi lagu yang relatif panjang tidak terasa lama karena kita begitu menyatu dan terbang tenggelam dalam atmosfer masif yang dibangun oleh band tersebut. Beberapa band di dalam mixtape ini sangat influensial, beberapa cukup obscure dan underrated, semuanya sangat direkomendasikan. Kamu bisa download mixtape ini di sini:

https://docs.google.com/leaf?id=0B6xIkk3PY8UQZDY2NWJkM2MtOTJmZS00ZWUzLWJjZDYtM2MzZWM5YjdlMTRk&hl=en_US

dan ini daftar track yang saya satukan menjadi satu file mixtape ini:

  1. Hawkwind – Hall of the Mountain Grill
  2. Ramesses – Baptism of the Walking Dead
  3. Dead Meadow – Beyond the Fields we Know
  4. Causa Sui – Tijuana Blues
  5. Spaceship Landing – 1x im Prinzip
  6. Earthless – Godspeed
  7. Flower Travellin Band – Satori Part V
  8. Om – Meditation is the Practice of Death
  9. Rotor – Auf’s Maul
  10. Church of Misery – Master of Brutality (John Wayne Gacy)
  11. Colour Haze – Tempel
  12. Mother Sun Flower – See the Enemy
  13. Beethoven – Moonlight Sonata .

Mutiny on the Electronic Bay

Rak piringan hitam saya sudah kepenuhan. Ini karena di rak itu saya juga menaruh semua CD dan beberapa buku. Akhirnya saya putuskan untuk beli rak baru, kebetulan nemu yang memadai dengan harga yg sangat masuk akal.
Lucunya, setelah itu jarum turntable saya patah. Jadi agak percuma juga rasanya sudah menyiapkan tempat yang bagus, malah tidak bisa memutar.
Ini sudah seminggu lebih saya tidak memutar piringan hitam. Hanya bisa memandangi artwork-artworknya saja. Kemarin datang sebuah plat pesanan yang sangat saya tunggu-tunggu, album Earthless favorit, Rythms from a Cosmic Sky. Earthless adalah trio instrumental jam/stoner/post rock/whatever dari San Diego terdiri dari drummer Mario Rubacalba (Hot Snakes, Rocket From the Crypt, Cikatat Ikatowi, dan belakangan di OFF! bersama eks vokalis Black Flag, Keith Morris), gitaris Isaiah Mitchell (Nebula), dan bassis Mike Eginton. Ini adalah album gila dengan sound yang banyak terpengaruh classic rock ‘n roll, stoner/doom metal, post rock, psychedelic rock, dan struktur ala jam band- album ini cuma terdiri dari dua lagu, Godspeed dan Sonic Prayer, yang masing-masing durasinya sekitar 20 menit, tapi jauh dari kesan monoton, apalagi membosankan. Oh iya, cover art nya juga sangat memukau, dengan packaging gatefold yang bagus. Hanya sayang platnya tidak color. atau picture disk. Saya membayangkan kalau ada versi picture disk atau colour dengan motif bintang-bintang luar angkasa seperti di kovernya pasti sangat ciamik.

Entah berapa lama lagi musti nunggu jarum selesai diganti dan bisa memutar kemegahan astral ala Earthless ini.


A Brief, yet Triumphant Intermission

Sekali lagi, bikin blog baru. Yang ini mungkin akan lebih difokuskan untuk hal hal kesukaan, seperti records collecting, buku-buku menarik yang terakhir saya baca, film bagus yang baru saya tonton, dan hal-hal remeh temeh lainnya.

enjoy 🙂


metal: a headbanger’s journey, a film by Sam Dunn.

4cm0ite3

Semalam akhirnya saya berkesempatan menonton Metal: a headbanger’s journey bikinan Sam Dunn yang kesohor itu. Film dokumenter itu menyampaikan banyak arti dan makna tentang metal. Saya yakin semua makna dan arti metal yang disampaikan Sam Dunn di film itu sebenarnya pasti sudah ada di kepala tiap metalhead sejati. Namun di sini film ini bisa meneriakkan makna-makna itu, me’refresh’ apa yang sempat menjadi buram beberapa saat belakangan, dan memberi empowerment baru kepada setiap penikmat musik keras.

Di film ini Sam Dunn merunut metal dari evolusi musik rock 60an menjadi beragam genre metal yang kita kenal hari ini. Dia bahkan bisa menarik hubungan antara nada-nada dalam metal dengan musik klasik abad 18-19. Ada pula bahasan yang cukup menarik mengenai Black Sabbath. Sabbath dapat disebut sebagai ‘the first metal band’. Rob Zombie bahkan mengatakan bahwa ‘They are the only last thing in metal that’s real. Everything that comes after tham is just a repetition, adds a little, take a little.’ Menurut Dunn, keunikan utama Sabbath yang kemudian menjadikan mereka dianggap sebagai ‘the first metal band’, adalah band ini adalah band rock pertama yang menggunakan musikal interval tri-tone. Tri-tone ini sering dianggap sebagai ‘diabolus in musica‘, nada-nada setan. pada abad pertengahan nada-nada ini dilarang oleh gereja, karena umum digunakan dalam upacara memanggil setan, atau semacamnya.

Dari sini Dunn bergerak membahas berbagai hal yang sering dikonotasikan dengan ‘metal’. fashion, tema-tema death and violence, stereotipikal yang sering ditujukan kepada metal, dan lain  sebagainya.

“Untuk membahas mengenai tema-tema kematian dan kekerasan dalam metal, Dunn pergi ke Norway dan melakukan penelitian terhadap the notorious Norway metal atau yang lebih dikenal dunia dengan sebutan ‘Black Metal’. Entah mungkin apakah negara itu terlalu dingin, atau memang para metalhead di sana masih merasakan darah orang viking di dalam diri mereka, anak-anak muda metal norway menjadi metalheads yang paling devilish, satanis, dan brutal. Pembakaran gereja oleh para personil band metal sempat sering terjadi. Orang yang paling infamous dalam aksi-aksi gila macam ini adalah The one-and the only, Varg Vikerness. Vokalis burzum ini dipenjara atas dakwaan pembunuhan atas vokalis band black metal swedia, mayhem, dan juga atas dakwaan pembakaran beberapa gereja di Norway. Ada pula sebuah wawancara dengan seorang pendeta yang menyaksikan sendiri gerejanya dibakar, dia bercerita mengenai pembakaran gereja yang terjadi beberapa tahun lalu pada malam natal, sungguh mengharukan. Menurutnya tidak ada kebahagiaan pada natal saat itu, yang ada hanya wajah-wajah sedih. Pendeta ini lalu mengungkapkan pandangannya mengenai satanism di sana. “it is inefectant, elitist religion. it is only for the best, for the strongest, for the most succesfull, it is not for the timid or the weak, and so, by that virtue alone, it won’t have a lot following. ” setelah itu ada sebuah wawancara dengan seorang personel band metal yang-saya lupa siapa namanya- cukup ‘weird’. Di sini sepertinya dia mewakili para satanic metalhead, ketika ditanya ‘apa yang menjadi sebab semua kegilaan di Norway ini?’ dia diam beberapa saat, kemudian dengan nada yang dalam dan dingin, simply said, “…satan”.

Ada pula pembahasan mengenai stereotip publik umum terhadap metal, dimana metal sering dikatakan sebagai musik yang mendorong kekerasan dan pembunuhan. satu hal yang menarik adalah di sini Sam Dunn berhasil merangkai satu statemen dari banyak metalhead untuk menjawab stereotip publik ini. “Metalheads ini tidak akan bunuh diri atau membunuhi orang-orang setelah mendengarkan musik metal. Justru dengan mendengarkan musik musik semacam itu, para metalhead ini menemukan perasaan kolektivisme, bahwa mereka bukanlah satu-satunya yang merasa seperti itu. lagu-lagu ini justru memberi empowerment kepada mereka yang sebelumnya merasa lemah.” Ditengah tengah moshpit crowd lah, para metalhead menemukan nilai kesatuan, sesuatu yang makin jarang ada akhir akhir ini. Sungguh indah. Salute. [Zarosh]